Daun jambu kering gugur tertiup, terserak,
terangkai-mahkota di rambutmu.
Sedetik-detik rontok, pelan mengalun.
Sebentar-bentar lara, membungkus sigap
pada parasmu yang pucat,
matamu yang kadung sembap.
Pun, pagimu bersahabat.
Digelarnya kapas mendung,
Dipercikannya rintik sendu.
(alam tak ingin dirimu tegar)
Tapi,
cukup,
cukuplah dirimu mengundang,
tak perlu pesta dengan nestapa.
Rela,
relakan lelakimu ini
yang kini pergi, berpeluk puluh sebab.
Doa,
doakan kita merapal doa
dihadapan wali dan saksi. Nanti.
cik
di tiro, jogja, 3 Januari 2014