Papan


Teman, setelah melepaskan status mahasiswa kalian pasti akan menuju status yang sakral, yaitu KELUARGA.
Kalian pasti akan dihadapkan pada tuntutan papan. Secara sederhana, papan berarti RUMAH. Rumah yang harusnya mampu memapankan jasmani dan rohani, nanti.
Maka dari itu, jangan sekedar MEMBANGUN rumah. Ada yang lebih penting, yaitu MEMAKNAI rumah.

ruang komunal UII, 21 Mei 2014

Ada Rindu


Ada rasa bersalah ketika terhitung lama aku meninggalkannya. Ada rasa rindu luar biasa untuk lebih dalam menggali kesetiannya. Dia yang menuntun, bagaimana cara membuang, menahan, dan menarik nafas.

Aku masih ingat di selapang gubuk pasir, pertama kali kulantangkan janji setia itu. Teriakan keras tiga janji setia begitu menggetarkan dada. Terasa menyentuh. Saat itulah, aku berusaha setia.

Hari-hari yang telah bergulir, aku merasa telah setia. Setia yang dibarengi dengan pengorbanan. Selama itu aku merasa nyaman. Aku menjadi diriku sendiri.



Namun, aku cuma manusia. Pasti punya keterbatasan hati dan pikiran.


Entah apa yang terjadi dalam diriku, yang jelas itulah yang dinamakan keterbatasan. Mungkin aku bisa dibilang ingkar. Cuma bersetia di lisan.


Hanya saja, dari situlah justru lahir pemaknaan. Aku coba memaknai apa itu "mersudi" dengan terus mencari. Ya, mencari "mersudi" dengan "hening" sesuai dengan kapasitasku sekarang dan hari esok.


Salamku buat Merpati.


Purwodadi, 7 Mei 2014