Tanah Ibu (Kim)


Ibu, sepekan sudah aku bertanah di Ibu Kim.
Sama sepertimu, yang kuamati dalam gerbong roda besi,
tanah Ibu Kim membentang hijau.  Ada padi, pun jerami.

Ibu, tanah Ibu Kim begitu tertib-beraturan.
Beberapa jenak mataku sejuk oleh tanahnya.
Aku merasa damai, terkadang romantis serupa anakmu yang lain.

Ibu, tak maksud hati ingin membandingkan.
Tapi, dari tanah Ibu Kim aku mengerti,
kelakuan anak-anakmu lah yang buat Ibu berlinang.

Ibu, mungkin aku rindu tanah Ibu Kim.
Hanya rinduku tak kan pernah putus padamu.
Kau telah melahirkan banyak anak
yang pandai menari, membatik, menukang, sampai berlayar.

Ibu, aku tak ingin meniru Chairil Anwar
yang ingin hidup seribu tahun lagi.
Biar kamu, Ibu,
yang mengasuh para cucumu selama itu
bahkan selama-lamanya.

Korea Selatan, 1-6 Juni 2014

Berdua Saja


Berdua saja sudah cukup.
Kepiting yang berlari menyamping,
itulah penghibur riuh-hening.

Abaikan ombak yang keras menghantam karang,
yang buihnya membasahi raga.
Biarkan burung yang melukis dengan dua titik matanya,
disini, di Greweng
atau disana, di Siung.

Cukup berdua saja,
sampai dijemput rembulan,
sampai hanyut ke masa depan.

Sleman, 25 Juni 2014

Taman Langit


Aku menyukai tata langit tadi malam.
Sempurna indah, yang mungkin itu teras firdaus milik Illah.

***
Ada perihal asmara yang ternarasi di atas sana,
rembulan dengan mesra merangkul lintang-lintang

***
Seusia ini aku baru sadar,
ada taman langit,
yang berjuta-juta kilometer di atas kepala

Sleman, 12 Juni 2014