Ibu, sepekan sudah aku bertanah
di Ibu Kim.
Sama sepertimu, yang kuamati
dalam gerbong roda besi,
tanah Ibu Kim membentang hijau. Ada padi, pun jerami.
Ibu, tanah Ibu Kim begitu
tertib-beraturan.
Beberapa jenak mataku sejuk oleh
tanahnya.
Aku merasa damai, terkadang
romantis serupa anakmu yang lain.
Ibu, tak maksud hati ingin
membandingkan.
Tapi, dari tanah Ibu Kim aku
mengerti,
kelakuan anak-anakmu lah yang
buat Ibu berlinang.
Ibu, mungkin aku rindu tanah Ibu
Kim.
Hanya rinduku tak kan pernah putus
padamu.
Kau telah melahirkan banyak anak
yang pandai menari, membatik,
menukang, sampai berlayar.
Ibu, aku tak ingin meniru Chairil
Anwar
yang ingin hidup seribu tahun
lagi.
Biar kamu, Ibu,
yang mengasuh para cucumu selama
itu
bahkan selama-lamanya.
Korea Selatan, 1-6 Juni 2014