Aku berharap dilumat angin malam, hilang dalam kesendirian meninggalkan
keramaian. Aku sadar diri, keramaian kadang membuatku larut dalam kemunafikan. Aku
seperti asing bagi diriku sendiri. Keramaian yang selalu bertempat menuntut aku
menjadi kami atau aku menjadi kalian. Pernahkah kalian merasa seperti ini?
Kesendirian tiada relasi dengan kesepian, yang sering dinadakan manusia
: "kamu tidak punya pasangan, salah sendiri bujangan (jomblo), duh..
kasihan!" Intinya, menjurus-menyindir pada level perasaan manusia.
Nirasmara, nirkasih, nirsayang. Bukan itu! Aku memaknai kesendirian sebagai
laku mawas diri. Mengenal diriku lagi, mengenal darimana aku berasal, dan
kemana aku akan kembali.
Kesendirian semakna juga dengan mencari. Mencari yang dibarengi dengan
keheningan. Keheningan yang menuntut untuk diam. Pahami dulu, rasakan dulu. Tak
usah banyak bicara! Seperlunya saja!
Mencari dalam keheningan sanggup mengantarkan manusia merenungi segala
ciptaan-Nya, yang pada akhirnya ilmu dan hidayah mampu mengalir dalam jiwa dan
raga.
Meskipun aku paham, merapat pada kesendirian hingga mengenal jatidiri sangat susah tercapai, karena ini soal mengolah rasa. Menahan emosi, memerangi hawa dan nafsu. Namun, setidak-tidaknya telah ada usaha daripada terlalu asik dengan keramaian.
Kesendirian caraku berkomunikasi dengan Tuhan.
Salam perguruan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar