Pohon buat Gadis

 
Aku pohon yang sehari lalu masih bibit, menjelma demi seorang gadis.
Dua puluh empat jam, Tuhan menumbuhkanku.
Dari bibit menjulang batang lalu menjulur cabang-cabang.
Wangi daun pun semerbak usai ranting-ranting pelan merangkak.
Sehari lagi, Tuhan melebarkan tajuk. Meniadakan celah bagi terik dan deras.

Gadis, segera berteduh. Bawalah masa depanmu.

Purwodadi, 30 Maret 2014

Transportasi Massal dan Penataan Ruang


Dalam konteks kekinian, Jakarta jadi acuan permasalahan dan penyelesaian kemacetan. Kemacetan semakin terasa bila menyimak statistik yang ada. Tahun 2012, per harinya perjalanan orang di DKI Jakarta  sekitar 22,4 juta. Dari 22,4 juta perjalanan orang tersebut, lebih dari 50% (12,7 juta) merupakan pengguna kendaraan pribadi, baik mobil maupun motor. Sisanya, adalah mereka yang menggunakan kereta api, angkutan lainnya, bersepeda, maupun berjalan kaki.

Solusi kemacetan tersebut sudah direalisasikan, yaitu dari segi penyediaan moda transportasi massal. Eksistensi busway Trans Jakarta adalah yang paling beken sampai sekarang.

Lahir sejak 2004, Trans Jakarta sudah punya 12 koridor. Akan bertambah jadi 15 koridor dengan koridor 13,14, dan 15 yang direncanakan dibangun dengan konsep elevated atau jalan layang.

Hebatnya, dalam waktu 6 tahun dari 2004 sampai 2010, jalur Trans Jakarta mencapai 170 kilometer, ini merupakan terpanjang di dunia. Tak hanya itu, data terakhir membuktikan sekitar 400 ribu orang Jakarta per hari memanfaatkan busway Trans Jakarta.

Sayangnya, realita tersebut belum mampu mengatasi kemacetan. Jakarta seolah belum mencapai titik sembuh dari penyakit macet.

Mass Rapid Transit (MRT) menjadi solusi berikutnya. Menilik sejarahnya, ide MRT sudah dicetuskan sejak 1970. Baru dibahas secara serius sejak 1995. Namun, baru terealisasi 2014 dengan target operasi awal 2016.

Mendalami fakta tersebut, ada pihak yang lantas skeptis dengan pembangunan MRT. Momentum MRT dianggap sudah usang karena rentang ide sampai realisasi begitu lama. Terlalu banyak energi dan waktu yang dikeluarkan untuk mempersiapkan proyek pembangunan MRT. Seperti kendala birokrasi yang rumit dan pembebasan lahan yang lama.
Dari segi biaya pun pembangunan MRT paling sedikit butuh 16 triliun rupiah. Untuk MRT Jakarta sendiri, skema pendanaan yang telah disepakati adalah kurang lebih 83% berasal dari pinjaman Japan International Cooperation Agency (JICA).

Padahal dengan biaya lima triliun rupiah saja bisa bikin pembangunan jalur dan pengadaan busway Trans Jakarta. Daya angkut busway pun sekitar 45 ribu penumpang per jam per arah. Sangat efisien dan efektif dibanding daya angkut MRT yang diperkirakan hanya 18 ribu penumpang per jam per arah.

Kebijakan Tata Ruang

Solusi atas kemacetan tak cukup dipecahkan dari sisi transportasi. Harus didukung pula dengan kebijakan tata ruang yang tepat.

Pakar transportasi, Hananto Prakoso bilang, bicara transportasi tak cukup sebatas terhadap angkutan umum tetapi juga harus bicara tentang konsep tata ruang kota. Mengingat sistem pergerakan selalu berhubungan dengan tata ruang.

Efektivitas pengoperasian angkutan umum terletak pada kota tipe compact (memusat/kepadatan penduduk tinggi). Pengoperasian angkutan umum pada kota tipe sprawl (menyebar/kepadatan penduduk rendah) akan banyak mendapatkan hambatan.

Kota tipe sprawl, jaringan angkutan umum banyak meninggalkan blank spot (daerah yang tidak terlayani angkutan umum). Selain dicirikan dengan infrastruktur jaringan jalan yang massif, ciri lainnya adalah penggunaan kendaraan pribadi tinggi, tingkat konsumsi BBM tinggi serta biaya eksternalitas besar (kemacetan, polusi, dan kebisingan)

Jadi, menurut Hananto, Trans Jakarta dan MRT tak kan pernah menyelesaikan problem kemacetan jika tak dibarengi dengan kebijakan penataan ruang yang tepat. Penataan ruang khususnya pemukiman sebaiknya diarahkan memusat mendekati pusat aktivitas. Mengingat saat ini rata-rata pemukiman tersebar di kota-kota penyangga Jakarta. Akibatnya jarak perjalanan ke pusat aktivitas semakin jauh dan biaya transportasi semakin besar.

Salah satu solusi yang dilontarkan Hananto yaitu memperbanyak pembangunan apartemen dan rumah susun di pusat kota yang harganya terjangkau oleh keluarga dengan tingkat pendapatan menengah dan rendah.

Hanya saja, pertanyaan kritis juga perlu diungkapkan terkait solusi semacam itu? Semudah itukah mengubah perilaku masyarakat Indonesia yang terbiasa berhuni horizontal ke vertikal? Bagaimana kebijakan pembangunan agar pengembang tertarik membangun untuk kalangan menengah ke bawah?

Hasil review majalah Techno Konstruksi, edisi 50 Tahun V Juni 2012