Dalam konteks kekinian, Jakarta jadi acuan permasalahan dan
penyelesaian kemacetan. Kemacetan semakin terasa bila menyimak statistik yang
ada. Tahun 2012, per harinya perjalanan orang di DKI Jakarta sekitar 22,4 juta. Dari 22,4 juta perjalanan
orang tersebut, lebih dari 50% (12,7 juta) merupakan pengguna kendaraan
pribadi, baik mobil maupun motor. Sisanya, adalah mereka yang menggunakan
kereta api, angkutan lainnya, bersepeda, maupun berjalan kaki.
Solusi kemacetan tersebut sudah direalisasikan, yaitu dari
segi penyediaan moda transportasi massal. Eksistensi busway Trans Jakarta adalah
yang paling beken sampai sekarang.
Lahir sejak 2004, Trans Jakarta sudah punya 12 koridor. Akan
bertambah jadi 15 koridor dengan koridor 13,14, dan 15 yang direncanakan
dibangun dengan konsep elevated atau
jalan layang.
Hebatnya, dalam waktu 6 tahun dari 2004 sampai 2010, jalur
Trans Jakarta mencapai 170 kilometer, ini merupakan terpanjang di dunia. Tak
hanya itu, data terakhir membuktikan sekitar 400 ribu orang Jakarta per hari
memanfaatkan busway Trans Jakarta.
Sayangnya, realita tersebut belum mampu mengatasi kemacetan.
Jakarta seolah belum mencapai titik sembuh dari penyakit macet.
Mass Rapid Transit
(MRT) menjadi solusi berikutnya. Menilik sejarahnya, ide MRT sudah dicetuskan
sejak 1970. Baru dibahas secara serius sejak 1995. Namun, baru terealisasi 2014
dengan target operasi awal 2016.
Mendalami fakta tersebut, ada pihak yang lantas skeptis
dengan pembangunan MRT. Momentum MRT dianggap sudah usang karena rentang ide
sampai realisasi begitu lama. Terlalu banyak energi dan waktu yang dikeluarkan
untuk mempersiapkan proyek pembangunan MRT. Seperti kendala birokrasi yang
rumit dan pembebasan lahan yang lama.
Dari segi biaya pun pembangunan MRT paling sedikit butuh 16
triliun rupiah. Untuk MRT Jakarta sendiri, skema pendanaan yang telah
disepakati adalah kurang lebih 83% berasal dari pinjaman Japan International Cooperation Agency (JICA).
Padahal dengan biaya lima triliun rupiah saja bisa bikin
pembangunan jalur dan pengadaan busway Trans Jakarta. Daya angkut busway pun
sekitar 45 ribu penumpang per jam per arah. Sangat efisien dan efektif
dibanding daya angkut MRT yang diperkirakan hanya 18 ribu penumpang per jam per
arah.
Kebijakan Tata Ruang
Solusi atas kemacetan tak cukup dipecahkan dari sisi
transportasi. Harus didukung pula dengan kebijakan tata ruang yang tepat.
Pakar transportasi, Hananto Prakoso bilang, bicara
transportasi tak cukup sebatas terhadap angkutan umum tetapi juga harus bicara
tentang konsep tata ruang kota. Mengingat sistem pergerakan selalu berhubungan
dengan tata ruang.
Efektivitas pengoperasian angkutan umum terletak pada kota
tipe compact (memusat/kepadatan
penduduk tinggi). Pengoperasian angkutan umum pada kota tipe sprawl (menyebar/kepadatan penduduk
rendah) akan banyak mendapatkan hambatan.
Kota tipe sprawl,
jaringan angkutan umum banyak meninggalkan blank
spot (daerah yang tidak terlayani angkutan umum). Selain dicirikan dengan
infrastruktur jaringan jalan yang massif, ciri lainnya adalah penggunaan
kendaraan pribadi tinggi, tingkat konsumsi BBM tinggi serta biaya eksternalitas
besar (kemacetan, polusi, dan kebisingan)
Jadi, menurut Hananto, Trans Jakarta dan MRT tak kan pernah
menyelesaikan problem kemacetan jika tak dibarengi dengan kebijakan penataan
ruang yang tepat. Penataan ruang khususnya pemukiman sebaiknya diarahkan
memusat mendekati pusat aktivitas. Mengingat saat ini rata-rata pemukiman tersebar
di kota-kota penyangga Jakarta. Akibatnya jarak perjalanan ke pusat aktivitas
semakin jauh dan biaya transportasi semakin besar.
Salah satu solusi yang dilontarkan Hananto yaitu
memperbanyak pembangunan apartemen dan rumah susun di pusat kota yang harganya
terjangkau oleh keluarga dengan tingkat pendapatan menengah dan rendah.
Hanya saja, pertanyaan kritis juga perlu diungkapkan terkait
solusi semacam itu? Semudah itukah mengubah perilaku masyarakat Indonesia yang
terbiasa berhuni horizontal ke vertikal? Bagaimana kebijakan pembangunan agar
pengembang tertarik membangun untuk kalangan menengah ke bawah?
Hasil review majalah
Techno Konstruksi, edisi 50 Tahun V Juni 2012