Kesetiaan Pohon


Pohon itu setia menjaga dedaun yang menua,
beradu mulut dengan angin
bersitegang hujan dan petir,
sesudahnya dilerai cahaya-cahaya.

Pohon itu bergantung hidup
pada percakapan tak mengenal lembar akhir
bersama dedaun itu tiap hari,
diulang-ulang kenangan
sebelum tegap pohon itu membungkuk.

Sleman, 16 Oktober 2014

Setumpuk Undangan Ketika Pulang


Undangan selalu menarik perhatian ketika aku pulang. Kebanyakan undangan pernikahan, sesekali undangan sunatan. Tak jarang jumlahnya setumpuk setinggi laptop.

Aku agak kritis menilai visual undangan. Mulai tampilan muka, tipografi, warna, jenis kertas, denah lokasi, hingga nama tukang sablon dan lain sebagainya. Orientasinya ada yang potrait maupun landscape. Ada yang dikasih pita, ada semodel masuk ke dalam amplop. Keseringan model sekali buka, atau beberapa kali buka lembar, mirip daftar menu makanan restoran.


Kadang heran aku dengan tukang sablon yang memproduksi undangan. Heran karena seringkali pemilihan font susah terbaca dan tak tepat karakter. Bayangkan gelar akademik sarjana hukum yang disandang salah satu pasangan, ditulis dengan font berkaki yang terlalu berkaki-kaki. Sangat tidak elegan!

Terus, aku bertanya-tanya. Adakah mata kuliah Sejarah Visual Undangan di jurusan Desain Komunikasi Visual? Bila ada, tolonglah dosen yang mengampu mata kuliah tersebut membina tukang sablon undangan. Biar bisa bikin undangan yang berkarakter dan elegan. Jadi, kalau dapat pesanan undangan dari salah satu bintang film Annabelle bisa pakai Chiller font. Menyeramkan tapi berkarakter, bukan?

Sekalian dekonstruksi konsep visual undangan yang melulu menampilkan simplifikasi bebungaan. Sesekali bolehlah menampilkan penyerdehanaan onderdil mobil, perkakas rumah tangga, atau alat-alat perang.

Tak beruntungnya, sampai sekarang aku belum mendapati undangan yang mengundang teruntuk namaku. Paling-paling juga untuk bapak atau ibuku. Apa iya teman-teman sekolahku lupa? Apa iya jangan-jangan tak tahu alamat? Atau memang belum ada yang menikah? Ah, aku tak percaya. Undanglah aku kawan. Biar aku terlatih dalam berdandan.

Bahkan, aku memimpikan ada resepsi undangan di luar negeri. Tak melulu di dalam kota yang melulu di gelanggang olahraga. Undangan sekaligus tiket pesawat buat sekeluarga. Bubar resepsi kami sekeluarga bisa jalan-jalan.

Mubazir juga sudah punya paspor, tapi aku baru sekali ke luar negeri.

Bagi yang menempuh hidup baru, aku ucapkan selamat. Rancanglah surga senyaman kalian. Kelak ketika rumah kalian diketuk cobaan, ingatlah undangan yang dulu tersebar. Kenanglah teman-temanmu yang masih berstatus mahasiswa. Mereka yang dengan lahap menyantap katering resepsi, lalu mendoakan demi keabadian janji suci kalian.

Mungkin seperti yang lain, aku pun akan prihatin. Ketika aku pulang melihat undangan untuk kali kedua atas nama salah satu pasangan.

Lekas kalian mulai malam yang indah.

(Purwodadi, 11 Oktober 2014)

Wanita yang Turun di Pertigaan Pabrik Gula


Dalam Bis Jogja-Solo aku duduk di jok yang berjumlah dua, entah di baris ke berapa. Tiga baris depanku di jok berjumlah tiga, duduk dengan lembut wanita berkaos kuning. Rambutnya kuncir kuda, ujung-ujungnya coklat. Dia duduk memeluk tas biru. Kaosnya dimasukkan, dikencangkan dengan sabuk yang melingkari celana jeans-nya. Rapi.

Seperti itu pula aku berpenampilan. Kaos aku masukkan, tak lupa aku melingkarkan sabuk pada celana. Tak jarang aku tampil seperti ini sampai komentar turut terlontar dari orang-orang. Mungkin penampilan seperti itu terlihat konyol atau culun. Tapi, aku pikir itu mendidik untuk berani tampil beda. Intinya, aku dan dia tidak janji untuk janji berpenampilan serupa.

Mungkin masih bisa disebut beruntung saat mataku mengendus wajahnya, walau cuma tiga per empat bagian, walau hanya sekali. Seterusnya selama perjalanan tatapannya hanya ke depan.

Mempesona.

Dalam bis selalu ada yang mengasong suara. Bisa tua, muda, pria, wanita, bahkan yang punya kelamin keduanya.

Wanita itu begitu derma. Dua kali pengasong suara yang memainkan kencrung, diberinya uang kertas. Sementara aku cuma uang logam. Sempat aku ragu, wanita seperti dia tak kan rela membagi uang. Siapa bapak dan ibunya?

Lampu merah di pertigaan dekat pabrik gula terpaksa menghentikan semua laju kendaraan. Terpaksa pula aku dicela perpisahan. Wanita itu bergegas menenteng tas kresek ungu, menurunkan kakinya mencium aspal. Perpisahan aku dan dia berjarak kaca dan bahu jalan. Lampu hijau aku nilai kecam. Aku terpaksa menyeret mataku yang tak lelah membuntutinya, yang mungkin menuju istirahat siangnya. Roda-roda mau tak mau harus membawaku menuju Tirtonardi.

Dalam imajinasi yang paling gila, bila wanita itu membaca sepasukan kata ini, aku ingin bertemu di depan toko bakpia di Jalan Solo, Maguwo. Cukup lima belas menit berdiri menunggu bis. Mungkin sembari menunggu kami berbicara tentang apa saja, kecuali keributan politik yang diributkan orang-orang yang tak paham politik di media sosial. Lalu tangan kami melambai menghentikan bis lalu masuk lewat pintu belakang. Terserah di baris berapa kami duduk, yang jelas harus jok berjumlah dua. Entah berapa lama pengasong suara datang ketika kami asik bertutur kisah, pastinya kami telah bertukar uang. Aku kertas, dia logam. Berlaku untuk pengasong suara selanjutnya, sebelum dia turun di pertigaan pabrik gula, lalu aku melaju menuju Tirtonardi menerus ke Purwodadi.

Mungkin wanita itu melambaikan tangan.

(Purwodadi, 9 Oktober 2014)

Ketukan Maut


Rindumu telah diketuk maut
berkali ulang tanpa izin waktu
mirip
              lancang
                                tetamu.

Rindumu tak sungkan membungkam sungkan
penghormatan bagi maut yang menyeruput kopimu.
Maut menatap rindumu yang tak berpintu
ladang-ladang kering adalah ancaman.

Maut bergelantung di pekat awan
sebelum layu sebenarnya maut,
maut
              menghujani
                                rindumu.

Sleman, 6 Oktober 2014

Gelegar Suar


Suar malah menggelegar tak lagi sanggup berpendar
sepanjang hari tanpa malam yang sengaja tak diizinkan.

Gelegar suar adalah sepi,
lamat-lamat mendekati hampa

engkau adalah suar yang tak pernah dipeluk mercu berpesta malam
dengan sauh dan bebintang.

Sleman, 6 Oktober 2014

Embun


Aku mulai putus asa mencuri kata-kata rembulan. Bukan lantaran nyali ciut
tapi resah pada embun yang akan tutup mulut.

(Sleman, 2/10/2014)