Mengkhayal Rumah


Siang yang temaram, aku berkhayal tentang rumah di masa depan.

Selapang tapak surgawi : bergelombang hijau, dipagari anak sungai, jalan bebatuan, rerumah tak berjeda lama, serta terbentur lanskap pegunungan. Mungkin di Munich, Rio de Janiero, Busan, atau Ungaran.

Aku dirikan rumah cukup dua lantai. Dengan struktur yang unik, barangkali. Ada ruang melayang di tengah rumah, kalau perlu sekalian ruang menjorok hingga dua puluhan meter. Meski sebenarnya aku begitu buruk dalam pelajaran struktur, baiknya aku butuh bantuan ahli struktur.

Tapak tak boleh habis, harus ada taman. Terbayang, bagaimana mata ini dimanjakan dengan rerumputan disiram batuan koral berwarna putih. Suara arus sungai yang berbenturan dengan bongkahan batu. Tajuk-tajuk pohon yang memberikan keteduhan lalu bayangan jatuh tepat di teras belakang rumah. Lampu-lampu yang berdiri tegak tertanam memberikan kehangatan di malam hari. Seolah ada sebuah ruang yang terbentuk, dan kami hidup!

Luas lantai satu harus lebih kecil daripada lantai dua. Jadi, rumahku tampak menggantung. Lantai satu berisi ruang tamu, kamar-kamar tidur, dan dapur. Lantai dua dominan ruang keluarga. Sangat menyenangkan punya ruang keluarga berdimensi besar. Akan ada banyak canda-tawa : aku dengan anak-anakku, kakek-nenek dengan cucu-cucunya. Akan ada pula banyak rayuan gombal dari aku untuk istriku. Akan lebih sering istriku main lirikan mata mengajak bercinta. Indah, bukan?

Tambahan pula ruang santai yang harus aku isi dengan koleksi buku. Tentu tak sekedar baca buku, bisa juga buat jamu tamu yang mau berdiskusi tentang apa saja. Mungkin tamu itu teman kecil, teman kuliah, teman kantor, bahkan teman tapi (pernah) mesra. Ah, semoga saja istriku tak tahu.

Momen indah saat senggang atau akhir pekan tentu ketika membaca Hujan Bulan Juni milik Sapardi. Ditemani secangkir susu jahe, jendela-jendela yang basah, ruang luar yang dingin, makin menambah kehangatan membaca kumpulan puisi itu.

Tak lama istriku datang menuju ruang santai. Dia cantik sekali dan aku putuskan menyudahi Hujan Bulan Juni.

Dan, kami bercinta (lagi). Cukup di ruang santai ini!

Tiba-tiba khayalanku pecah. Mampir seorang wanita lalu bertanya, "Kapan skripsi?"
Ah, skripsi. Engkau senasib calon istri. Di semester depan belum juga halal.

(Jogja, 20 Desember 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar