“ Hatiku tertambat di Jogja,” ucap Dasril Bakri. Pengalaman hidupnya selama
di Jogja yang membuat ia begitu mantap berujar seperti itu.
Ia biasa dipanggil atuk
atau kakek. Panggilan ini merujuk pada perawakannya yang punya rambut uban,
jenggot lebat putih, wajah yang mulai keriput, serta badan yang sudah tak
tegap. Meskipun begitu, kelincahannya masih bisa dihayati. Beberapa menit
obrolan kami sempat terhenti karena atuk
harus melayani pembeli di warung makannya.
Pancuran Tujuh. Demikian atuk beri nama warung makan khas Padang. Nama itu punya makna.
“ Satu pancuran ke atas persembahan untuk raja. Enam
pancuran lain mengelilingi sang raja. Enam pancuran itu artinya jumlah suku di
tempat saya,” terangnya.
Secara sederhana, enam pancuran merupakan simbol ucapan
terima kasih keenam suku tersebut pada raja. Raja itu maksudnya kakek dari
silsilah keluarga Dasril Bakri. Ia sendiri dari suku Guci.
ENAM PULUH TUJUH TAHUN YANG LALU, Dasril Bakri lahir di
Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Ia habiskan waktu selama 26 tahun
disana. Pada 1970, ia merantau ke Jakarta. Di ibukota ia ikut bantu restoran
khas Padang milik kakak iparnya. Ia
hanya bertahan empat tahun sebab harus mudik untuk menikah.
Pada 1975, Dasril Bakri dapat beasiswa dari Dinas
Pekerjaan Umum (PU) – instansi tempat ia bekerja. Ia “dikirim” ke Institut
Pendidikan Pekerjaan Umum Tenaga Listrik (IPPUTL), kawasan Malioboro,
Jogja. Sekarang jadi Kantor Dinas
Pariwisata. Disitu Dasril Bakri mendalami soal bangunan, irigasi, jembatan, dan
jalan raya.
Atuk cuma studi dua
tahun. Gara-gara uang beasiswa hanya dapat selama tiga bulan.
Dasril Bakri tak lantas pulang kampung, tetap bertahan di Jogja. Ia ikut orang jualan
masakan Padang. Baru pada 1977 ia memberanikan diri untuk mandiri. Buka warung
makan Padang.
Tahun ganti tahun dilalui atuk dengan bisnis masakan Padang-nya. Rindu melanda. Tahun 90-an atuk mudik.
ATUK SANGAT BERSYUKUR. Kedua putrinya boleh dibilang
sudah mapan. Ramadhani (38 tahun), anak pertama, lulusan teknik sipil
Universitas Muhammadiyah Malang. Tinggal di Pamekasan , Madura, berprofesi
sebagai kontraktor. Anak kedua, Sri Wahyuningsih (35 tahun) seorang PNS,
lulusan Universitas Sahid Jakarta. Sekarang berdomisili di Jakarta.
Karena anak kedua lahir di jawa (Jogja), maka atuk kasih nama “khas” jawa.
“ Karena lahirnya di jawa, saya beri dia nama Sri
Wahyuningsih. Padahal nama orang minang gag
ada yang Sri Wahyuningsih,” kenangnya sambil tertawa kecil.
TAHUN 2006, atuk
memutuskan kembali ke Jogja. Ia langsung buka warung dekat kampus UAD,
Janturan. Lalu, ia pindah di Mancasan dekat kampus FE UII pada 2007. Dua tahun
disana kemudian pindah ke kampus UII Terpadu. Tepat di belakang kampus Fakultas
Teknologi Industri (FTI) UII, disitulah atuk
mencari rezeki sampai detik ini. Identitas Pancuran Tujuh simple ; dicat putih, punya kaca etalase makanan yang nongol di
mulut teras, kadang ada motor buntut hitam milik atuk parkir di depan.
Secara visual,
ruang makan Pancuran Tujuh terasa berantakan. Tiba-tiba ada bahan makanan macam
; tempe, kacang panjang, lombok tergeletak di meja. Jadi, kalau kita makan
bersebelahan dengan aneka sayuran itu. Ada juga kumpulan teka-teki silang (TTS)
berserakan di depan televisi, yang ditaruh di sudut ruang. Atuk memang maniak TTS.
Prinsip dagang atuk
sebagai orang minang adalah cari pergaulan. Selain, cari untung juga. Maka
jangan heran, atuk begitu supel.
Penuh canda kadang menggoda. Nilai ruang berantakan seolah ditambal dengan
sifat atuk yang fleksibel dalam bergaul.
Pernah suatu kali atuk
dapat undangan ceramah di Klaten. Ia diperkenalkan oleh panitia dengan gelar
KH. Dasril Bakri, MA. Saat naik mimbar atuk
mengklarifikasi dengan guyonan.
“Sebenarnya gelar saya ada artinya. Huruf K artinya kini, H artinya hadir, MA artinya Minang Asli. Jadi, maksudnya Kini Hadir Dasril
Bakri Minang Asli.”
HAWA MALAM BEGITU LEMBAB. Tiap hirupan nafas sangat
sejuk. Baru sejam lalu hujan reda. Sekira sudah cukup, saya menyudahi
kebersamaanu dengan atuk. Atuk menutup dengan candanya.
Tulisan ini hasil dari kuliah feature yang diadakan oleh LPM Himmah UII.
Dengan tutor Mas Fahri, alumnus Himmah.
Klenggotan, Bantul
4 Nopember 2012
08:39 WIB
Tulisan ini hasil dari kuliah feature yang diadakan oleh LPM Himmah UII.
Dengan tutor Mas Fahri, alumnus Himmah.
