Suka Derita Menuju Seorang Arsitek


Sering kita takjub melihat sebuah bangunan yang begitu indah bak serasa di surga.
Sejurus kilat, bila bawa kamera langsung pilih angle, jepret sana-sini buat dokumentasi.
Ada jeda beberapa detik untuk bengong, merenung, menatap, dan merasa dalam hati.
Tak jarang muncul pertanyaan : siapa ini yang bikin? siapa arsiteknya? kok bisa ya? :0

Adalah wajar muncul pertanyaan seperti itu. Secara, arsitek ditugaskan oleh kolektivitas rasa manusia untuk mendesain peradaban. Bukankah arsitektur jadi tolok ukur sebuah peradaban? Arsitektur tertegak berangkat dari kebersamaan, ilmu pengetahuan, filsafat, dan suara alam.

Mulia dan berjasa sekali ya arsitek itu? Ya, seperti itulah.
Keren kali ya kalau bisa jadi arsitek? Ya, bisa jadi.
Terus cara buat jadi arsitek bagaimana? Susah apa tidak? Simak uraian di bawah ini ;-)

Dulu banget, kalau seseorang mau jadi arsitek harus ikut berpraktik dengan orang yang lebih dulu dianggap sebagai arsitek. Ibaratnya, ada arsitek pembimbing. Nah, setelah dianggap punya ilmu yang cukup, pelan-pelan melepaskan diri dari arsitek pembimbing itu. Maka, lekatlah gelar arsitek, jeng...jeng... :-)

Sebegitu prestis profesi arsitek jadi tidak semua orang bisa jadi arsitek.
Itu waktu zaman dulu!




Church on the Water,

Tomamu, Hokkaidō, Jepang, 
didesain oleh Tadao Ando pada 1988.
Dia tak pernah mengeyam pendidikan formal arsitektur
karena sebenarnya dia mantan petinju.
Tahun 1995, Tadao Ando mendapatkan Pritzker Prize,
sebuah penghargaan paling prestis di dunia arsitektur.



Nah, untuk era saat ini semua orang bisa jadi arsitek. :-)
Tak perlu berpraktik pada "sesepuh", cukup lewat jalur pendidikan formal arsitektur.
Di Indonesia, tak bisa dihitung dengan jari jumlah jurusan (teknik) arsitektur di perguruan tinggi.
Memang harus diakui, arsitektur masih jadi favorit sehingga banyak perguruan tinggi berlomba-lomba membuka jurusan ini.

Tapi....... Wow banget......... hahaha :D

Jangan pikir kuliah di arsitektur
seindah bila lihat Burj Khalifa,
seasyik memotret Alhambra,
seromantis nongkrong di Eifell Tower.

Hasil akhir sih terkadang menyenangkan, tapi kadang menyakitkan --"

Proses untuk menghasilkan karya itu yang penuh perjuangan.
Bikin maket yang merogoh dompet, cetak poster, beli sketchbook,
revisi gambar berkali-kali sampai mentok tak tahu lagi apa yang mau direvisi
kadang konsultasi dengan dosen dipuji, esok hari dicaci. Hina-dihina! :-/

Cobaan tersebut memang menyenangkan bila pada akhirnya dapat nilai sesuai harapan. Cengar-cengir deh...hehehe :D
Sebaliknya, begitu menyakitkan bila sudah lelah memeras keringat, memutar otak, mengatur keuangan, menjaga perasaan sebab dicaci, dcyl (dan cobaan yang lain..haha),
eh... dapat nilai segitu doang. Berasa terkena ledakan nuklir!

Pada akhirnya yang terucap : "Aku ikhlas" :-)

Yap, apapun hasilnya memang wajib kita syukuri. Semua pasti ada hikmahnya.
Yang jelas jadi arsitek juga harus berpikir positif dan percaya akan kuasa illahi.

Semoga menginspirasi. Salam :-)


sumber foto : http://www.pritzkerprize.com/1995/works




Tidak ada komentar:

Posting Komentar