JERMAN


Orang yang paling miskin sedunia adalah orang yang tak berani bermimpi. Mimpi itu gratis, kita tinggal menggenggam.

Dan, akhir-akhir ini aku mulai membangun mimpi. Mimpi untuk pergi ke Jerman. Buat apa? Tentu buat lanjut studi S2.

Benar-benar mimpi! :-)

Aku memang mahasiswa biasa-biasa saja. Tak punya prestasi yang mentereng. Mentok paling juara 2 silat tingkat kabupaten. Giliran ditanya IPK, aku juga enggan jawab. Hehehe.

Meski keadaannya seperti itu, apapun aku syukuri, mimpiku tak kan limbung!

***
Malam itu udara dingin. Angin yang bergerak pelan cukup ampuh menggigilkan badan. Kursi dan meja kayu terasa lembab, mungkin terkena tempias hujan yang seharian melanda.

Sembari menunggu pesanan makan malam, kami asyik ngobrol ngalor-ngidul. Ari dan Norma asyik bahas program pertukaran mahasiswa ke Jepang. Norma sudah pula memelototi formulir yang baru beberapa menit tadi difotokopi. Isian petunjuk di formulir pun dengan sigap disikatnya. Beberapa hari ke depan formulir itu harus dikirim ke panitia pertukaran mahasiswa by email.

Aku, yang duduk di samping kanan Norma dan di depan Ari, cuma nimbrung sekenanya. Masih malas ngomong,  selama pesanan tempe-udang goreng plus sambal bawang yang aku pesan belum tersaji di meja.

Tak berselang lama, pesanan kami datang juga. Kusantap lahap diiringi desisan efek sambal bawang yang cukup pedas.

Sambil makan lalu aku pamer mimpi. Aku bilang, aku mau ke Jerman! Pokoknya lanjut studi S2. Sungguh malam itu aku begitu percaya diri.

Sepersekian detik, ocehanku ditanggapi Rahmat, yang duduk di samping kiri Norma.

"Gua juga pengen ke Jerman, cuk."

"Hah, yang bener lu?

"Iya, pengen gua. Kan pusat farmasi ada di Jerman."

Mendadak Norma ikut nyambung, meski tak ada tanda-tanda dia minat lanjut studi ke Jerman.

"Psikologi yang bagus juga di Jerman, kan psikologi lahirnya di Jerman."

Oh... baru tahu, gumanku. Hehe.

Dalam hati aku bangga bisa "mempengaruhi" orang dengan mimpiku. Hahahaha.
Selama ini yang kutahu si Rahmat pengen jadi desainer grafis meski latar belakangnya farmasi. Entah dia mau ambil spesialisasi apa kalau lanjut studi ke Jerman, kalau aku mungkin yang berhubungan dengan studi tata kota.

Dia anak farmasi, aku anak arsitektur.

"Nanti kita di Jerman main salju bareng, cuy." Lantangku dengan polos, Rahmat cuma cengengesan.

***
Well, itulah mimpi. Mimpi identik dengan imajinasi. Dan, imajinasi lebih dahsyat daripada pengetahuan.

Tak perlu takut bermimpi. Toh, Tuhan Maha Kaya, mintalah sebanyak-banyaknya.

Ingat pula, orang tua di rumah selalu mendoakan, kita tinggal bermimpi dan berpikir positif.


Semangat mimpi, sobat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar