Natalitas manusia terus melonjak, aktivitas
pun tambah kompleks. Entah yang bersifat rekreasi, ekonomi, profesional, maupun
insidental, yang jelas tiap aktivitas membutuhkan ruang. Mau tak mau ruang
harus dihadirkan!
Menghadirkan ruang berarti ada usaha
pembangunan yang punya dampak pada bentang alam. Ada dampak positif
(konstruktif) dan negatif (destruktif). Tiada satu pun pembangunan di dunia ini
yang seratus persen berdampak positif. Secuil pasti ada dampak negatif ke alam.
Memprioritaskan-mengidealkan
pembangunan pun lambat-laun akan mencederai alam juga. Sangat lucu bila kita
terlalu kritis ini-itu salah, ini-itu bakal merusak alam. Seakan-akan, apa-apa
tidak boleh dibangun.
Pembangunan adalah konsekuensi
logis guna mengiringi peradaban manusia. Apapun wujudnya , tidak ada yang salah
dalam pembangunan.
Tak perlu munafik pula, pada
dasarnya pembangunan adalah penghancuran.
Hanya saja kita tak boleh lupa
berkontemplasi. Alam ini ada pemiliknya. Kita dilahirkan untuk mengolah kemudian
ditagih di pengadilan akhir.
Allah Subhanahuwata'ala telah
berfirman bahwa dunia akan berakhir (kiamat). Peringatan kiamat melandasi
manusia sebagai khalifah untuk bijak dalam upaya pembangunan. Bijak berarti
meminimalkan kerusakan alam.
Maka, filosofinya, pembangunan
adalah produk kebijaksanaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar