Mengeja Angin


Tak ada salahnya manusia berkenalan dengan angin. Selama ini manusia cuma membiarkan angin sekelabat lewat. Tak pernah ada percakapan apalagi percumbuan. Manusia yang apatis atau angin yang sombong?

Manusia dan angin berdekatan, itu tak perlu disangkal. Meski satu syarat tak terpenuhi : angin tak berwujud, maka statusnya tetap tetangga! Harus ada sapaan dan perkenalan.

Manusia segeralah berinisiatif!

Cobalah dekati, kenali dengan duga-menduga. Benarkah angin cuma udara yang bergerak? Pernahkah angin melanggar aturan? Berlari dari suhu tinggi ke suhu rendah?

Adakah daya ia menyampaikan pesan?

Bila ada, lantas sebuah atau sepotong pesan? Bila sebuah tentu satu pesan pasti, meski terasa hambar. Bila sepotong tentu manusia harus mengeja. Menunggu angin selanjutnya, lalu dieja lagi, lalu dibaca. Kalau seperti ini, mengeja angin sangat mengasyikkan,bukan?

Tetapi tunggu dulu.Membaca angin? Bisakah?

Atau memang sebenarnya manusia bisa berinteraksi dengan angin, selama angin itu hidup. Angin adalah udara yang bergerak, bukankah sesuatu yang bergerak pasti punya kehidupan?

Mungkinkah ada yang namanya mata hati? Mata hati yang jadi alat interaksi manusia dengan angin.

Lantas bagaimana mata hati beroperasi? Ada yang tahu?

(apakah tulisan ini membahas sesuatu yang logis?)

Atau mungkin mata hati sudah rusak? Atau sudah lama mati? Mati karena pelan-pelan dibunuh oleh logika-logika menyesatkan atas nama ilmu pengetahuan?

Lalu, manusia yang sombong atau angin yang apatis?

Ah... logika!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar