RUMAH


Beberapa hari lalu, saat dinihari, aku berdiskusi kecil dengan seorang teman perihal RUMAH. Diskusi ini lahir karena temanku, Rahmat, bertanya tentang estetika rumah. Dia banyak mem-bookmark foto rumah di laptop.

Usut punya usut dia tertarik dengan visual rumah tersebut dan di kemudian hari ingin memilikinya. Dia minta saran dariku soal foto-foto rumah yang diperlihatkan dari laptopnya.

Bukan maksud sok pintar, tapi setiap dia mengagumi foto rumah yang disodorkannya, aku selalu menegasi. Dia bilang rumah ini-rumah itu sangat bagus. Apalagi dengan harga segitu (terjangkau) makin dia menggebu untuk mendapatkannya. Sekalian buat investasi, katanya. Lantas aku bilang, rumah itu biasa-biasa saja. Standar. Itu tipe rumah minimalis, sudah menjamur disana-sini.

"Apa bisa dengan uang sebesar harga rumah yang ditawarkan bisa dapat rumah yang lebih bagus?" pancingnya sembari menunjukkan situs jual-beli rumah dihadapanku.

" Kalau lu minta bantuan gua, itu kecil. Gua bisa desain rumah jauh lebih indah daripada rumah ini dengan uang sebesar yang tertera di situs itu." jawabku percaya diri. Dia seolah tak terima dengan kesombonganku.

" Mending gua saranin, lu BIKIN rumah daripada BELI rumah!" timpalku lagi dengan tegas.

***
Begitulah sepotong dialog di dini hari yang cukup sunyi di sebuah kantor pers mahasiswa.
Mungkin caraku berdiskusi dengan Rahmat agak mendebat. Aku terus ngeyel dengan argumenku. Aku anggap argumennya lemah.

Jujur, itu bagian dari mendoktrin. Bisa saja dia tak sadar.

Dia belum bisa menangkap,

sebenarnya, aku ingin memberikan pencerahan bahwa rumah jangan diidamkan cuma sampai level estetika. Itu relatif! Dia bisa bilang rumah itu indah, lalu aku bantah jelek. Gantian aku yang bilang rumah ini indah, dia bilang biasa saja.

Estetika berpulang pada selera!

Maka, wajar aku bilang BIKIN daripada BELI. Membeli sama saja terhanyut dalam siklus trend. Belum tentu bisa memuaskan di kemudian hari. Inilah yang disebut pertimbangan dimensi waktu.

Berbeda dengan membikin rumah sendiri. Tak perlu merenung terlalu dalam untuk sebuah estetika. Justru renungilah tujuan menciptakan rumah.

Ciptakanlah rumah yang sesuai kebutuhan. Kebutuhan spritual, afeksi, sosial, atau ekonomi. Hadirkanlah ruang-ruang yang mampu mewujudkan harmonisasi keluarga.

Yang demikian adalah cara yang BENAR dalam menciptakan rumah.

Sebab, KEBENARAN adalah KEINDAHAN.


Good luck, kawan! :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar