Langit Bergerimis
Gerimis bukanlah pertanda langit menangis.
Langit bergerimis agar manusia bersikap arif dengan urusan dunia. Seperti, tak perlu mengumpat jemuran pakaian, hindari menghakimi kekasih karena telat datang, atau tahan saja ketika harus menunda makan siang.
Mungkin ada hikmah di balik kejadian tersebut :
1. Jemuran gagal kering biar manusia mencuci banyak sekaligus. Jemuran pasti kering sekalipun gerimis berdurasi dua hari. Cukup dijemur di atas kasur! Jadi, setelah dua hari tak perlu mencuci.
2. Kekasih tak perlu meledak memarahi kekasihnya. Apa ia tak paham kekasihnya telat datang gegara mencuci banyak sekaligus. Biar dua hari setelah gerimis, kekasihnya bisa berpakaian menawan menghadap calon mertua guna melamar kekasih.
3. Sebenarnya tak perlu gelisah menahan makan siang dengan alasan langit bergerimis. Cukup nikmati gerimis sampai ba'da maghrib. Setelah itu makan malam dengan kekasih, yang sesiang tadi memasak karena paham kekasihnya menahan lapar. Romantis, kan?
***
Sengaja langit bergerimis untuk menahan manusia berdiam di rumah. Biar manusia membuka daun jendela guna melihat gerimis. Biar manusia tahu, tiap milimeter gerimis terkandung harapan. Harapan yang terucap lalu menguap menuju langit. Harapan dari manusia seberang, dari Gaza, Kosovo, Nairobi, Kabul, Kiev, Pyongyang, sampai Papua.
Langit merawat harapan itu. Mengantarkan melewati mata-mata manusia.
Gerimis adalah harapan.
Gerimis bukanlah pertanda langit menangis.
Gerimis adalah cara langit mendamaikan manusia dengan sesama.
Sleman, 15 Juli 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar