Empat ramadhan sudah aku berumah di ruang ini. Sepuluh
keramik putih, ukuran 30x30 sentimeter tiap empat sisinya, meluas jadi
landasanku bergerak. Ada pula tegakan, berbata merah berlapis semen dan pasir,
kemudian cat warna putih menyapunya. Sederhana. Terasa empat tegakan yang
santun. Lelangit ruang ini berjarak tak sampai tiga meter dari landasan. Ruang
seperti ini yang lazim diucap “kamar kos”.
Kamar kosku berhadapan dengan ufuk timur. Mentari selalu muncul
menyampaikan salam bangun pagi. Terkadang aku meremehkan salam itu hingga telat
ibadah subuh. Terkadang pula aku menyalahkan jendela, yang tak sanggup
berteriak agar aku lekas bangun.
Sang Pencipta, maafkan kelakuan hamba.
Kamar kosku adalah bagian ruang di bangunan dua lantai ini.
Lantai pertama disewakan untuk komersial. Keseringan yang menyewa adalah
penyedia santapan buat mahasiswa. Dulu bakso, lalu soto, sekarang burjo*.
Anehnya, aku baru sekali makan disitu. Lantai kedua dibuat enam kamar kos
dengan modul kamar tiga meter. Kamar-kamar berhimpitan pada dinding samping dan
belakang. Selasar selebar semeter, itupun cuma mengelilingi tiga sisi.
Untuk menuju lantai dua tersedia tangga beton tanpa
pegangan. Temanku pernah tak mau naik lantai dua karena tak punya nyali
menapaki tangga itu.
***
Pemilik bangunan ini bernama Pak Mudi. Aku taksir beliau seumuran
dengan bapakku. Namun, soal kegagahan lebih gagah bapakku, yang pensiunan
polisi dan yang mengajariku (ber)silat sejak menengah atas.
Sehari-hari Pak Mudi bekerja di gubuk kecil dekat sekolah dasar
di desa ini. Beliau beserta istri menjual aneka jajan. Dulu, ketika berpamitan
buat mudik, aku menemui beliau di gubuk itu. Tak kusangka, aku diberi buah
tangan beraneka ria. Kelimpungan sekali. Tapi tak mengapa, mungkin rejeki.
Rumah beliau sepuluh meter dari bangunan ini. Beliau berstatus
juga sebagai muadzin di masjid yang persis bersebelahan dengan bangunan ini.
Beberapa bulan yang lalu, kaki Pak Mudi-kalau tidak salah-patah gegara
terpeleset di toilet rumah. Semangat tak pernah kendur, beliau masih mampu mengumandangkan
seruan sholat. Ah, jadi terharu.
***
Sore itu aku mau turun ke kota buat buka bersama. Motor
kukeluarkan dari garasi, tiba-tiba Pak Mudi nongol dari pintu samping rumah.
“ Arep nang endi?”
celetuk Pak Mudi. (Mau kemana?)
“Ajeng mandhap, pak.”
(Mau turun, pak)
“Kapan mulih omah?”
(Kapan pulang rumah?)
“Dereng ngertos.”
(Belum tahu)
Pulang rumah? Ah, rumah.
Apa kalian sudah di rumah? Senangkah?
Aku sudah pulang karena rumah adalah magnet biar orang
tertarik pulang. Salam.
*bubur kacang ijo
rumah, 22 Juli 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar