Pesta-Pesta


Udara bulan-bulan sekejap pengap diracuni bau mulut janji. Telinga-telinga tertusuk kata-kata surga. Sudut kota jadi ladang jemur panji-panji si penjual janji. Tetaman mirip album foto, terpajang tampang idiot berpeci-berkerudung.

Segalanya terasa hambar, meski segelintir bilang : ini pesta! Harus dirayakan dengan suka-gila. Uang ditebar, gendang dangdut-an menggema memanggil pemuda mabuk dengan para biduan.

Pesta pun usai, diganti dengan syukuran nasi kuning. Setelah mereka, si penjual janji, mengucapkan sumpah di bawah kitab suci. Entah itu sumpah serapah atau sumpah yang diikuti tangis dalam hati.

Mereka, kini dan beberapa tahun lagi, akan jadi corong bagi biduan dan tetamu pesta. Pasal-pasal mereka jual biar pesta tetap membahana.

Hanya saat mereka melanjutkan pesta, Tuhan mulai murka.

rumah, 16 Agustus 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar