Kecuali
bertuhan dan beragama, semua aku anggap permainan. Begitu mengasyikan
kadang mencengangkan. Seserius permainan sebetulnya sangat santai.
Sesantai permainan sebetulnya sangat serius. Tak pernah bisa ditebak.
Permainan ada karena aku bermain. Syarat mutlak bermain adalah tanpa kepentingan. Jiwa harus merasa bebas. Tekanan tidak boleh hadir saat bermain. Percaya diri adalah keharusan. Sekalipun serius, itu sekedar pencitraan. Bermain, kan?
Kepentingan yang dipanggul saat bermain akan merubah sebutan permainan jadi pelecehan. Jadi, tegaslah permainan harus tanpa kepentingan.
Seperti, mencintai perempuan pun aku tanpa kepentingan apapun. Seperti presiden terpilih itu. Beliau janji beramanah tanpa kepentingan. Seperti merangkai kalimat ini, tanpa aku bawa kepentingan pada malam yang menampilkan rembulan, pada angin yang mengalirkan gemericik, pada pagi nanti yang merayakan car free day.
Ah, ini masuk hari minggu. Pasti akan ada banyak permainan di jalanan.
***
Permainan ada karena aku bermain. Syarat mutlak bermain adalah tanpa kepentingan. Jiwa harus merasa bebas. Tekanan tidak boleh hadir saat bermain. Percaya diri adalah keharusan. Sekalipun serius, itu sekedar pencitraan. Bermain, kan?
Kepentingan yang dipanggul saat bermain akan merubah sebutan permainan jadi pelecehan. Jadi, tegaslah permainan harus tanpa kepentingan.
Seperti, mencintai perempuan pun aku tanpa kepentingan apapun. Seperti presiden terpilih itu. Beliau janji beramanah tanpa kepentingan. Seperti merangkai kalimat ini, tanpa aku bawa kepentingan pada malam yang menampilkan rembulan, pada angin yang mengalirkan gemericik, pada pagi nanti yang merayakan car free day.
Ah, ini masuk hari minggu. Pasti akan ada banyak permainan di jalanan.
***
Bernard Shaw bilang, orang berhenti bermain bukan karena tua tapi orang menjadi tua karena berhenti bermain. Itu artinya aku dan permainan tak kan menua.
Meskipun aku serius, Bernard Shaw pasti memanggul kepentingan.
rumah, dini hari 10 Agustus 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar