Dalam keramaian ada jarak yang kita ukur. Bukan bilangan tapi rasa-perasaan yang kita catat. Sekalipun tanpa satuan, rasa itu senyata matematika.
Pohon dan angin selalu berkarib. Seperti serial asmara di tivi, mereka menggugurkan daun-daun agar terasa drama. Angin sedikit pelit memberi sepoinya. Pun, pohon ternyata membeli bayang-bayang dari matahari. Lalu diletakkan di bawah kaki-kaki kita, memastikan tiada yang merasa ditinggalkan.
Langkah orang-orang asing jadi aral berat buat kita mendekat. Terima tak terima, jarak ini terukur mahal. Bukan dengan nafsu kita bayar. Mari beriuran saja, aku bibir dan kamu mata. Itu yang kita bawa.
Lalu, tak perlu menawar jarak itu karena senyumku seharga pandangan matamu.
(Sleman, 18/9/2014)