Wanita yang Turun di Pertigaan Pabrik Gula


Dalam Bis Jogja-Solo aku duduk di jok yang berjumlah dua, entah di baris ke berapa. Tiga baris depanku di jok berjumlah tiga, duduk dengan lembut wanita berkaos kuning. Rambutnya kuncir kuda, ujung-ujungnya coklat. Dia duduk memeluk tas biru. Kaosnya dimasukkan, dikencangkan dengan sabuk yang melingkari celana jeans-nya. Rapi.

Seperti itu pula aku berpenampilan. Kaos aku masukkan, tak lupa aku melingkarkan sabuk pada celana. Tak jarang aku tampil seperti ini sampai komentar turut terlontar dari orang-orang. Mungkin penampilan seperti itu terlihat konyol atau culun. Tapi, aku pikir itu mendidik untuk berani tampil beda. Intinya, aku dan dia tidak janji untuk janji berpenampilan serupa.

Mungkin masih bisa disebut beruntung saat mataku mengendus wajahnya, walau cuma tiga per empat bagian, walau hanya sekali. Seterusnya selama perjalanan tatapannya hanya ke depan.

Mempesona.

Dalam bis selalu ada yang mengasong suara. Bisa tua, muda, pria, wanita, bahkan yang punya kelamin keduanya.

Wanita itu begitu derma. Dua kali pengasong suara yang memainkan kencrung, diberinya uang kertas. Sementara aku cuma uang logam. Sempat aku ragu, wanita seperti dia tak kan rela membagi uang. Siapa bapak dan ibunya?

Lampu merah di pertigaan dekat pabrik gula terpaksa menghentikan semua laju kendaraan. Terpaksa pula aku dicela perpisahan. Wanita itu bergegas menenteng tas kresek ungu, menurunkan kakinya mencium aspal. Perpisahan aku dan dia berjarak kaca dan bahu jalan. Lampu hijau aku nilai kecam. Aku terpaksa menyeret mataku yang tak lelah membuntutinya, yang mungkin menuju istirahat siangnya. Roda-roda mau tak mau harus membawaku menuju Tirtonardi.

Dalam imajinasi yang paling gila, bila wanita itu membaca sepasukan kata ini, aku ingin bertemu di depan toko bakpia di Jalan Solo, Maguwo. Cukup lima belas menit berdiri menunggu bis. Mungkin sembari menunggu kami berbicara tentang apa saja, kecuali keributan politik yang diributkan orang-orang yang tak paham politik di media sosial. Lalu tangan kami melambai menghentikan bis lalu masuk lewat pintu belakang. Terserah di baris berapa kami duduk, yang jelas harus jok berjumlah dua. Entah berapa lama pengasong suara datang ketika kami asik bertutur kisah, pastinya kami telah bertukar uang. Aku kertas, dia logam. Berlaku untuk pengasong suara selanjutnya, sebelum dia turun di pertigaan pabrik gula, lalu aku melaju menuju Tirtonardi menerus ke Purwodadi.

Mungkin wanita itu melambaikan tangan.

(Purwodadi, 9 Oktober 2014)

Ketukan Maut


Rindumu telah diketuk maut
berkali ulang tanpa izin waktu
mirip
              lancang
                                tetamu.

Rindumu tak sungkan membungkam sungkan
penghormatan bagi maut yang menyeruput kopimu.
Maut menatap rindumu yang tak berpintu
ladang-ladang kering adalah ancaman.

Maut bergelantung di pekat awan
sebelum layu sebenarnya maut,
maut
              menghujani
                                rindumu.

Sleman, 6 Oktober 2014

Gelegar Suar


Suar malah menggelegar tak lagi sanggup berpendar
sepanjang hari tanpa malam yang sengaja tak diizinkan.

Gelegar suar adalah sepi,
lamat-lamat mendekati hampa

engkau adalah suar yang tak pernah dipeluk mercu berpesta malam
dengan sauh dan bebintang.

Sleman, 6 Oktober 2014

Embun


Aku mulai putus asa mencuri kata-kata rembulan. Bukan lantaran nyali ciut
tapi resah pada embun yang akan tutup mulut.

(Sleman, 2/10/2014)

Keputusan Hujan


Hujan akan memutuskan air mata siapa yang turut mengalir ke lautan
lalu menguap menghitamkan awan, melipatduakan kalut tak berkesudahan.

"Apa iya malam ini akan hujan?" cemasnya menangguhkan air mata.

(Sleman, 29/9/2014)

Jarak yang Mahal


Dalam keramaian ada jarak yang kita ukur. Bukan bilangan tapi rasa-perasaan yang kita catat. Sekalipun tanpa satuan, rasa itu senyata matematika.

Pohon dan angin selalu berkarib. Seperti serial asmara di tivi, mereka menggugurkan daun-daun agar terasa drama. Angin sedikit pelit memberi sepoinya. Pun, pohon ternyata membeli bayang-bayang dari matahari. Lalu diletakkan di bawah kaki-kaki kita, memastikan tiada yang merasa ditinggalkan.

Langkah orang-orang asing jadi aral berat buat kita mendekat. Terima tak terima, jarak ini terukur mahal. Bukan dengan nafsu kita bayar. Mari beriuran saja, aku bibir dan kamu mata. Itu yang kita bawa.

Lalu, tak perlu menawar jarak itu karena senyumku seharga pandangan matamu.

(Sleman, 18/9/2014)

Cinta Tanpa Melacur


Kata-kataku adalah bayi dari rebah dan lelah yang bersenggama. Ketiba-tibaan adalah ranjang bergoyang, desah melayani imajinasi,
entah kapan dan dimana pun.

Puncak langit tak terlalu tinggi saat ranjang pelan-pelan menuju tenang. Menuntaskan lelah melahirkan bayi, yang lalu diberi nama.
Inilah cinta tanpa melacur.

(Sleman, 17/9/2014)