Mas-Mbak?



Mas - mbak, saya tahu sampeyan orang yang pintar. Mungkin sampeyan seorang profesor, pengamat, ilmuwan, seniman. Sekalipun koruptor, sampeyan tetap orang pintar. Sepenuhnya saya tahu sampeyan orang pintar.

Mas - mbak, saya paham adalah hak sampeyan untuk selalu bersikap kritis. Sampeyan bisa langsung reaktif bila ada isu tentang pemilihan presiden, isu agama, atau isu-isu yang kadang bermutu. Sampeyan bisa langsung bernalar dengan teori yang sahih yang bisa menguatkan argumen. Sepenuhnya saya paham sampeyan benar-benar kritis.


Mas - mbak, saya dan sampeyan sendiri pasti ingin kalau masyarakat lainnya juga kritis, tidak apatis. Tahu mana yang baik, mana yang buruk. Tahu yang benar, tahu yang salah.


Hanya, mas – mbak. Akan percuma bila sampeyan kritis banget tapi sampeyan enggan untuk introspeksi diri. Bila enggan, sampeyan termasuk manusia MUNAFIK, seperti kata Mochtar Lubis.


Mas – mbak, perubahan tidak cukup diperjuangkan dengan bersikap kritis. Mulai dari diri sendiri dulu. Introspeksi jauh lebih penting. Perubahan besar tak nampak bila tak dimulai dari perubahan kecil.


Mas – mbak, mari berbarengan  merubah diri sendiri dulu. Kritis boleh, tapi jangan lupa setelah itu bercermin. Jangan jadi manusia MUNAFIK.


Oh ,iya, mas – mbak. Kira – kira Mochtar Lubis, manusia munafik juga apa tidak? Salam.

rumah, 25 Juli 2014.

Ramadhan Pulang


Empat ramadhan sudah aku berumah di ruang ini. Sepuluh keramik putih, ukuran 30x30 sentimeter tiap empat sisinya, meluas jadi landasanku bergerak. Ada pula tegakan, berbata merah berlapis semen dan pasir, kemudian cat warna putih menyapunya. Sederhana. Terasa empat tegakan yang santun. Lelangit ruang ini berjarak tak sampai tiga meter dari landasan. Ruang seperti ini yang lazim diucap “kamar kos”.

Kamar kosku berhadapan dengan ufuk timur. Mentari selalu muncul menyampaikan salam bangun pagi. Terkadang aku meremehkan salam itu hingga telat ibadah subuh. Terkadang pula aku menyalahkan jendela, yang tak sanggup berteriak agar aku lekas bangun.

Sang Pencipta, maafkan kelakuan hamba.

Kamar kosku adalah bagian ruang di bangunan dua lantai ini. Lantai pertama disewakan untuk komersial. Keseringan yang menyewa adalah penyedia santapan buat mahasiswa. Dulu bakso, lalu soto, sekarang burjo*. Anehnya, aku baru sekali makan disitu. Lantai kedua dibuat enam kamar kos dengan modul kamar tiga meter. Kamar-kamar berhimpitan pada dinding samping dan belakang. Selasar selebar semeter, itupun cuma mengelilingi tiga sisi.

Untuk menuju lantai dua tersedia tangga beton tanpa pegangan. Temanku pernah tak mau naik lantai dua karena tak punya nyali menapaki tangga itu.

***

Pemilik bangunan ini bernama Pak Mudi. Aku taksir beliau seumuran dengan bapakku. Namun, soal kegagahan lebih gagah bapakku, yang pensiunan polisi dan yang mengajariku (ber)silat sejak menengah atas.

Sehari-hari Pak Mudi bekerja di gubuk kecil dekat sekolah dasar di desa ini. Beliau beserta istri menjual aneka jajan. Dulu, ketika berpamitan buat mudik, aku menemui beliau di gubuk itu. Tak kusangka, aku diberi buah tangan beraneka ria. Kelimpungan sekali. Tapi tak mengapa, mungkin rejeki.

Rumah beliau sepuluh meter dari bangunan ini. Beliau berstatus juga sebagai muadzin di masjid yang persis bersebelahan dengan bangunan ini. Beberapa bulan yang lalu, kaki Pak Mudi-kalau tidak salah-patah gegara terpeleset di toilet rumah. Semangat tak pernah kendur, beliau masih mampu mengumandangkan seruan sholat. Ah, jadi terharu.

***

Sore itu aku mau turun ke kota buat buka bersama. Motor kukeluarkan dari garasi, tiba-tiba Pak Mudi nongol dari pintu samping rumah.

Arep nang endi?” celetuk Pak Mudi. (Mau kemana?)
Ajeng mandhap, pak.” (Mau turun, pak)
Kapan mulih omah?” (Kapan pulang rumah?)
Dereng ngertos.” (Belum tahu)

Pulang rumah? Ah, rumah.
Apa kalian sudah di rumah? Senangkah?

Aku sudah pulang karena rumah adalah magnet biar orang tertarik pulang. Salam.

*bubur kacang ijo

rumah, 22 Juli 2014.

Langit Bergerimis


Gerimis bukanlah pertanda langit menangis.

Langit bergerimis agar manusia bersikap arif dengan urusan dunia. Seperti, tak perlu mengumpat jemuran pakaian, hindari menghakimi kekasih karena telat datang, atau tahan saja ketika harus menunda makan siang.

Mungkin ada hikmah di balik kejadian tersebut :

1. Jemuran gagal kering biar manusia mencuci banyak sekaligus. Jemuran pasti kering sekalipun gerimis berdurasi dua hari. Cukup dijemur di atas kasur! Jadi, setelah dua hari tak perlu mencuci.

2. Kekasih tak perlu meledak memarahi kekasihnya. Apa ia tak paham kekasihnya telat datang gegara mencuci banyak sekaligus. Biar dua hari setelah gerimis, kekasihnya bisa berpakaian menawan menghadap calon mertua guna melamar kekasih.

3. Sebenarnya tak perlu gelisah menahan makan siang dengan alasan langit bergerimis. Cukup nikmati gerimis sampai ba'da maghrib. Setelah itu makan malam dengan kekasih, yang sesiang tadi memasak karena paham kekasihnya menahan lapar. Romantis, kan?

***

Sengaja langit bergerimis untuk menahan manusia berdiam di rumah. Biar manusia membuka daun jendela guna melihat gerimis. Biar manusia tahu, tiap milimeter gerimis terkandung harapan. Harapan yang terucap lalu menguap menuju langit. Harapan dari manusia seberang, dari Gaza, Kosovo, Nairobi, Kabul, Kiev, Pyongyang, sampai Papua.

Langit merawat harapan itu. Mengantarkan melewati mata-mata manusia.

Gerimis adalah harapan.

Gerimis bukanlah pertanda langit menangis.

Gerimis adalah cara langit mendamaikan manusia dengan sesama.

Sleman, 15 Juli 2014

Diam


Mungkin diam bisa jadi penyelesai masalah. Sering aku lebih memilih diam ketika orang lain mengolok, menyindir, atau menggunjing. Tak perlu gegabah membalas.

Apa iya harus adu otot? Mungkin maksud mereka baik hanya tak paham cara menyampaikan. Lebih baik diam, kan?

Diam menurutku elegan. Diam adalah cara sabar menahan amarah, karena diam berarti memenangkan nafsu mereka.

Cik di Tiro, Jogja, 14 Juli 2014

Sebelum Pelita


Setelah petang mengizinkan gelap untuk datang,
tiba-tiba ia hilang dari lalu lalang.
Biasanya sejenak bahkan abadi.

Bila pelita belum datang,
ia betah dalam dekapan kegelapan,
yang memberinya status tanpa definisi.

Sedemikian tabah ia menunggu
sebelum semua benderang,
hingga ia berarti lagi.

Ia adalah jalan,
panjang menuntun insan
berjalan dalam peradaban.

Cik di Tiro, Jogja, 14 Juli 2014