Mas-Mbak?



Mas - mbak, saya tahu sampeyan orang yang pintar. Mungkin sampeyan seorang profesor, pengamat, ilmuwan, seniman. Sekalipun koruptor, sampeyan tetap orang pintar. Sepenuhnya saya tahu sampeyan orang pintar.

Mas - mbak, saya paham adalah hak sampeyan untuk selalu bersikap kritis. Sampeyan bisa langsung reaktif bila ada isu tentang pemilihan presiden, isu agama, atau isu-isu yang kadang bermutu. Sampeyan bisa langsung bernalar dengan teori yang sahih yang bisa menguatkan argumen. Sepenuhnya saya paham sampeyan benar-benar kritis.


Mas - mbak, saya dan sampeyan sendiri pasti ingin kalau masyarakat lainnya juga kritis, tidak apatis. Tahu mana yang baik, mana yang buruk. Tahu yang benar, tahu yang salah.


Hanya, mas – mbak. Akan percuma bila sampeyan kritis banget tapi sampeyan enggan untuk introspeksi diri. Bila enggan, sampeyan termasuk manusia MUNAFIK, seperti kata Mochtar Lubis.


Mas – mbak, perubahan tidak cukup diperjuangkan dengan bersikap kritis. Mulai dari diri sendiri dulu. Introspeksi jauh lebih penting. Perubahan besar tak nampak bila tak dimulai dari perubahan kecil.


Mas – mbak, mari berbarengan  merubah diri sendiri dulu. Kritis boleh, tapi jangan lupa setelah itu bercermin. Jangan jadi manusia MUNAFIK.


Oh ,iya, mas – mbak. Kira – kira Mochtar Lubis, manusia munafik juga apa tidak? Salam.

rumah, 25 Juli 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar