Aku, Kamu, dan Perahu


Seingatku, aku dan kamu sudah sepakat mendayung perahu. Lalu sekejap jadi aneh, aku dan kamu malah beradu punggung. Bagaimana bisa melaju? Perahu cuma diam di lautan.

Setelah kejadian itu, aku dan kamu sepakat untuk membelah perahu. Daripada sama sekali tak melaju. Aku mengayunkan kapak, kamu menangis terisak.

Perahu sudah terbelah. Anehnya, perahu belum juga karam. Aku melaju ke timur, kamu ke barat.

Jarak aku dan kamu makin jauh, dan dari kejauhan aku menatap mentari mengambang di lautan. Kamu dan perahu menghitam, tiada beda siluet dengan bayangan.

Perahu belum juga karam.

Sesaat kemudian aku tercengang. Ada empat biji dayung dalam perahuku. Sejak kapan kamu meninggalkan dayung dalam perahu ini? Lantas kamu melaju dengan apa? Apa kamu tidak tahu kalau mentari akan membakar perahu dan kamu? Harusnya dayung ini yang membelokkan perahu.

Aku tak mungkin menangisi kejadian ini. Begitu juga kamu. Air mata hanya akan membuat karam perahuku dan -mu.

Aku lihat kamu sudah menghilang. Mungkinkah kamu karam? Sementara aku sudah berciuman dengan daratan.

Lagi-lagi aku menahan air mata. Aku tak ingin daratan ini tenggelam.

Beburung baru saja mengabarkan, kamu hidup hanya perahu yang karam. Aku tak perlu melempar dayung ke lautan karena sebenarnya kamu sedang berenang menuju daratan ini.

Air kelapa yang aku teguk tak akan aku habiskan sebelum kamu merangkul daratan. Lekas minum bersama dengan bibir-bibir asin saling bersentuhan.

Setelah itu aku dan kamu menumpahkan air mata dan air kata sepuas-puasnya. Sebelum aku, kamu, dan perahu pelan-pelan karam.

Sleman, 21 Agustus 2014

Selendang Janda


Pagi ini seorang janda mengisahkan dukanya pada ranjang kamar :

Air mata menetes karena rindu luar biasa dalam lahir dan batinnya. Di ranjang kamar ini, dulu saat malam pertama, ia merasa di surga. Ia bergetar saat jemari kekar menjamah tiap lekuk tubuhnya. Satu per satu pakaian itu tanggal, menyisakan raut muka menggoda. Keempat mata saling mengadu, mereka hanyut dalam desah percintaan.

Ia sepi tak bisa bercinta lagi. Kubur suaminya sudah digali setahun lalu, yang gugur baku tembak di batas negara.

Ada dua siksa yang ia rasa : kehilangan pasangan bercumbu,

dan asupan gizi buat si bayi. Jasa mengangkat senapan tak begitu mahal daripada membeli popok, isi ulang bedak, jatah susu kaleng, hingga cicilan selimut tukang kredit.

Ia bersikeras hidup dengan selendang batik bernoda liur bayi, serta berharap buah dadanya mengucur deras untuk buah hati.

Pagi ini ia mengisahkan kabar gembira pada ruang tamu :

Seorang pemuda lima tahun lebih muda, datang melamar. Pemuda tampan dan mapan sekaligus anggota dewan. Janda itu mengiyakan, pesta pernikahan segera dilaksanakan.

Malam pertama hadir lagi. Bercinta tiap hari tanpa bosan. Sampai suaminya lupa kalau ia anggota dewan. Rapat dilupakan, gaji tetap ia genggam.

Mereka bercita bercinta di atas kapal pesiar. Suaminya bersiasat menyunat anggaran pendidikan. Milyaran ia dapat, sebelum KPK menangkap.

"Celaka ia janda lagi"

Pagi ini ia akan mengabarkan kematian :

Selendang batik telah terkalung di kusen pintu. Selamat tinggal!

Ada bayi menangis.

purwodadi, saat hari ulang tahun negara tahun 2014.

Pesta-Pesta


Udara bulan-bulan sekejap pengap diracuni bau mulut janji. Telinga-telinga tertusuk kata-kata surga. Sudut kota jadi ladang jemur panji-panji si penjual janji. Tetaman mirip album foto, terpajang tampang idiot berpeci-berkerudung.

Segalanya terasa hambar, meski segelintir bilang : ini pesta! Harus dirayakan dengan suka-gila. Uang ditebar, gendang dangdut-an menggema memanggil pemuda mabuk dengan para biduan.

Pesta pun usai, diganti dengan syukuran nasi kuning. Setelah mereka, si penjual janji, mengucapkan sumpah di bawah kitab suci. Entah itu sumpah serapah atau sumpah yang diikuti tangis dalam hati.

Mereka, kini dan beberapa tahun lagi, akan jadi corong bagi biduan dan tetamu pesta. Pasal-pasal mereka jual biar pesta tetap membahana.

Hanya saat mereka melanjutkan pesta, Tuhan mulai murka.

rumah, 16 Agustus 2014

Bermain


Kecuali bertuhan dan beragama, semua aku anggap permainan. Begitu mengasyikan kadang mencengangkan. Seserius permainan sebetulnya sangat santai. Sesantai permainan sebetulnya sangat serius. Tak pernah bisa ditebak.

Permainan ada karena aku bermain. Syarat mutlak bermain adalah tanpa kepentingan. Jiwa harus merasa bebas. Tekanan tidak boleh hadir saat bermain. Percaya diri adalah keharusan. Sekalipun serius, itu sekedar pencitraan. Bermain, kan?

Kepentingan yang dipanggul saat bermain akan merubah sebutan permainan jadi pelecehan. Jadi, tegaslah permainan harus tanpa kepentingan.

Seperti, mencintai perempuan pun aku tanpa kepentingan apapun. Seperti presiden terpilih itu. Beliau janji beramanah tanpa kepentingan. Seperti merangkai kalimat ini, tanpa aku bawa kepentingan pada malam yang menampilkan rembulan, pada angin yang mengalirkan gemericik, pada pagi nanti yang merayakan car free day.

Ah, ini masuk hari minggu. Pasti akan ada banyak permainan di jalanan.

***

Bernard Shaw bilang, orang berhenti bermain bukan karena tua tapi orang menjadi tua karena berhenti bermain. Itu artinya aku dan permainan tak kan menua.

Meskipun aku serius, Bernard Shaw pasti memanggul kepentingan.

rumah, dini hari 10 Agustus 2014

Pesta Pulang


Satu syawal atau lebaran, bagi para orang Indonesia, bisa dibilang pesta pulang. Di hari itu orang-orang menyiapkan pulang. Bahkan sebelum lebaran tiba, orang-orang sudah lalu-lalang pulang.

Pun, kampung berbenah menadah.

Puluhan bahkan ratusan kilometer bukan aral yang terjal. Begitu pula tanah, laut, dan udara, yang sudah siap memperjalankan orang-orang. Orang-orang sudah menyiapkan bekal. Mulai dari cadangan ban, jilbab warna-warni, hingga setandan pisang.

Orang-orang ingin segera pulang. Mereka tak betah sabar buat menghafal kenangan. Kenangan waktu kecil di kampung. Saat berenang di kali sampai hampir hanyut, berlari menangis ketika akan disunat pak mantri, sampai kenangan bergandengan tangan di pematang sawah dengan cinta pertama dulu.

Kehidupan memang tak sanggup memenangkan semua orang. Ada saja orang-orang yang harus mengurungkan pulang. Mereka lazimnya lebih memilih mengabdi. Sebut saja polisi, tentara, reporter, petugas pelabuhan atau bandara, atau pun penjaga ketinggian debit air kali ibukota negara. Mungkin mereka cuma bisa menitipkan kenangan pada marka jalan.

***

Selain cinta, pulang termasuk bentuk kesetiaan insan.

Arus balik, 1 Agustus 2014