Rehat


Aku geram dengan panas yang menuangkan hujan, aku terpesona dengan deras yang melahirkan terik.

Aku terbius siang yang melenakan dalam mimpi, aku girang dengan senja yang bergradasi pagi.

Aku menghindar dari ingar yang bingar, aku rindu kesederhanaan yang meriah.

Aku berharap malam, tak mengirim mimpi : biarlah aku rehat.

JERMAN


Orang yang paling miskin sedunia adalah orang yang tak berani bermimpi. Mimpi itu gratis, kita tinggal menggenggam.

Dan, akhir-akhir ini aku mulai membangun mimpi. Mimpi untuk pergi ke Jerman. Buat apa? Tentu buat lanjut studi S2.

Benar-benar mimpi! :-)

Aku memang mahasiswa biasa-biasa saja. Tak punya prestasi yang mentereng. Mentok paling juara 2 silat tingkat kabupaten. Giliran ditanya IPK, aku juga enggan jawab. Hehehe.

Meski keadaannya seperti itu, apapun aku syukuri, mimpiku tak kan limbung!

***
Malam itu udara dingin. Angin yang bergerak pelan cukup ampuh menggigilkan badan. Kursi dan meja kayu terasa lembab, mungkin terkena tempias hujan yang seharian melanda.

Sembari menunggu pesanan makan malam, kami asyik ngobrol ngalor-ngidul. Ari dan Norma asyik bahas program pertukaran mahasiswa ke Jepang. Norma sudah pula memelototi formulir yang baru beberapa menit tadi difotokopi. Isian petunjuk di formulir pun dengan sigap disikatnya. Beberapa hari ke depan formulir itu harus dikirim ke panitia pertukaran mahasiswa by email.

Aku, yang duduk di samping kanan Norma dan di depan Ari, cuma nimbrung sekenanya. Masih malas ngomong,  selama pesanan tempe-udang goreng plus sambal bawang yang aku pesan belum tersaji di meja.

Tak berselang lama, pesanan kami datang juga. Kusantap lahap diiringi desisan efek sambal bawang yang cukup pedas.

Sambil makan lalu aku pamer mimpi. Aku bilang, aku mau ke Jerman! Pokoknya lanjut studi S2. Sungguh malam itu aku begitu percaya diri.

Sepersekian detik, ocehanku ditanggapi Rahmat, yang duduk di samping kiri Norma.

"Gua juga pengen ke Jerman, cuk."

"Hah, yang bener lu?

"Iya, pengen gua. Kan pusat farmasi ada di Jerman."

Mendadak Norma ikut nyambung, meski tak ada tanda-tanda dia minat lanjut studi ke Jerman.

"Psikologi yang bagus juga di Jerman, kan psikologi lahirnya di Jerman."

Oh... baru tahu, gumanku. Hehe.

Dalam hati aku bangga bisa "mempengaruhi" orang dengan mimpiku. Hahahaha.
Selama ini yang kutahu si Rahmat pengen jadi desainer grafis meski latar belakangnya farmasi. Entah dia mau ambil spesialisasi apa kalau lanjut studi ke Jerman, kalau aku mungkin yang berhubungan dengan studi tata kota.

Dia anak farmasi, aku anak arsitektur.

"Nanti kita di Jerman main salju bareng, cuy." Lantangku dengan polos, Rahmat cuma cengengesan.

***
Well, itulah mimpi. Mimpi identik dengan imajinasi. Dan, imajinasi lebih dahsyat daripada pengetahuan.

Tak perlu takut bermimpi. Toh, Tuhan Maha Kaya, mintalah sebanyak-banyaknya.

Ingat pula, orang tua di rumah selalu mendoakan, kita tinggal bermimpi dan berpikir positif.


Semangat mimpi, sobat!

Pembangunan adalah Produk Kebijaksanaan


Natalitas manusia terus melonjak, aktivitas pun tambah kompleks. Entah yang bersifat rekreasi, ekonomi, profesional, maupun insidental, yang jelas tiap aktivitas membutuhkan ruang. Mau tak mau ruang harus dihadirkan!

Menghadirkan ruang berarti ada usaha pembangunan yang punya dampak pada bentang alam. Ada dampak positif (konstruktif) dan negatif (destruktif). Tiada satu pun pembangunan di dunia ini yang seratus persen berdampak positif. Secuil pasti ada dampak negatif ke alam.

Memprioritaskan-mengidealkan pembangunan pun lambat-laun akan mencederai alam juga. Sangat lucu bila kita terlalu kritis ini-itu salah, ini-itu bakal merusak alam. Seakan-akan, apa-apa tidak boleh dibangun.

Pembangunan adalah konsekuensi logis guna mengiringi peradaban manusia. Apapun wujudnya , tidak ada yang salah dalam pembangunan.

Tak perlu munafik pula, pada dasarnya pembangunan adalah penghancuran.

Hanya saja kita tak boleh lupa berkontemplasi. Alam ini ada pemiliknya. Kita dilahirkan untuk mengolah kemudian ditagih di pengadilan akhir.

Allah Subhanahuwata'ala telah berfirman bahwa dunia akan berakhir (kiamat). Peringatan kiamat melandasi manusia sebagai khalifah untuk bijak dalam upaya pembangunan. Bijak berarti meminimalkan kerusakan alam.

Maka, filosofinya, pembangunan adalah produk kebijaksanaan.

RUMAH


Beberapa hari lalu, saat dinihari, aku berdiskusi kecil dengan seorang teman perihal RUMAH. Diskusi ini lahir karena temanku, Rahmat, bertanya tentang estetika rumah. Dia banyak mem-bookmark foto rumah di laptop.

Usut punya usut dia tertarik dengan visual rumah tersebut dan di kemudian hari ingin memilikinya. Dia minta saran dariku soal foto-foto rumah yang diperlihatkan dari laptopnya.

Bukan maksud sok pintar, tapi setiap dia mengagumi foto rumah yang disodorkannya, aku selalu menegasi. Dia bilang rumah ini-rumah itu sangat bagus. Apalagi dengan harga segitu (terjangkau) makin dia menggebu untuk mendapatkannya. Sekalian buat investasi, katanya. Lantas aku bilang, rumah itu biasa-biasa saja. Standar. Itu tipe rumah minimalis, sudah menjamur disana-sini.

"Apa bisa dengan uang sebesar harga rumah yang ditawarkan bisa dapat rumah yang lebih bagus?" pancingnya sembari menunjukkan situs jual-beli rumah dihadapanku.

" Kalau lu minta bantuan gua, itu kecil. Gua bisa desain rumah jauh lebih indah daripada rumah ini dengan uang sebesar yang tertera di situs itu." jawabku percaya diri. Dia seolah tak terima dengan kesombonganku.

" Mending gua saranin, lu BIKIN rumah daripada BELI rumah!" timpalku lagi dengan tegas.

***
Begitulah sepotong dialog di dini hari yang cukup sunyi di sebuah kantor pers mahasiswa.
Mungkin caraku berdiskusi dengan Rahmat agak mendebat. Aku terus ngeyel dengan argumenku. Aku anggap argumennya lemah.

Jujur, itu bagian dari mendoktrin. Bisa saja dia tak sadar.

Dia belum bisa menangkap,

sebenarnya, aku ingin memberikan pencerahan bahwa rumah jangan diidamkan cuma sampai level estetika. Itu relatif! Dia bisa bilang rumah itu indah, lalu aku bantah jelek. Gantian aku yang bilang rumah ini indah, dia bilang biasa saja.

Estetika berpulang pada selera!

Maka, wajar aku bilang BIKIN daripada BELI. Membeli sama saja terhanyut dalam siklus trend. Belum tentu bisa memuaskan di kemudian hari. Inilah yang disebut pertimbangan dimensi waktu.

Berbeda dengan membikin rumah sendiri. Tak perlu merenung terlalu dalam untuk sebuah estetika. Justru renungilah tujuan menciptakan rumah.

Ciptakanlah rumah yang sesuai kebutuhan. Kebutuhan spritual, afeksi, sosial, atau ekonomi. Hadirkanlah ruang-ruang yang mampu mewujudkan harmonisasi keluarga.

Yang demikian adalah cara yang BENAR dalam menciptakan rumah.

Sebab, KEBENARAN adalah KEINDAHAN.


Good luck, kawan! :-)

Mengeja Angin


Tak ada salahnya manusia berkenalan dengan angin. Selama ini manusia cuma membiarkan angin sekelabat lewat. Tak pernah ada percakapan apalagi percumbuan. Manusia yang apatis atau angin yang sombong?

Manusia dan angin berdekatan, itu tak perlu disangkal. Meski satu syarat tak terpenuhi : angin tak berwujud, maka statusnya tetap tetangga! Harus ada sapaan dan perkenalan.

Manusia segeralah berinisiatif!

Cobalah dekati, kenali dengan duga-menduga. Benarkah angin cuma udara yang bergerak? Pernahkah angin melanggar aturan? Berlari dari suhu tinggi ke suhu rendah?

Adakah daya ia menyampaikan pesan?

Bila ada, lantas sebuah atau sepotong pesan? Bila sebuah tentu satu pesan pasti, meski terasa hambar. Bila sepotong tentu manusia harus mengeja. Menunggu angin selanjutnya, lalu dieja lagi, lalu dibaca. Kalau seperti ini, mengeja angin sangat mengasyikkan,bukan?

Tetapi tunggu dulu.Membaca angin? Bisakah?

Atau memang sebenarnya manusia bisa berinteraksi dengan angin, selama angin itu hidup. Angin adalah udara yang bergerak, bukankah sesuatu yang bergerak pasti punya kehidupan?

Mungkinkah ada yang namanya mata hati? Mata hati yang jadi alat interaksi manusia dengan angin.

Lantas bagaimana mata hati beroperasi? Ada yang tahu?

(apakah tulisan ini membahas sesuatu yang logis?)

Atau mungkin mata hati sudah rusak? Atau sudah lama mati? Mati karena pelan-pelan dibunuh oleh logika-logika menyesatkan atas nama ilmu pengetahuan?

Lalu, manusia yang sombong atau angin yang apatis?

Ah... logika!



Saat Jendela Punya Cerita


Jendela bagi yang tak memaknai akan dianggap benda mati. Ia hanya benda geometris yang cuma mengantarkan cahaya.

Padahal Jendela punya banyak cerita. Ia kadang memberi penasaran. Siapa gerangan yang datang? Apakah seorang teman lama, kerabat jauh, sang kekasih, atau malah seorang pencari sumbangan. Jendela selalu pertama yang merekam, ia seolah menyapa dalam diam.

Persahabatannya dengan Pintu kadang tak akur. Pintu kadang menggerutu : "Orang itu tak boleh masuk!"

Bila sudah seperti itu, Jendela tak bisa melobi apalagi memaksa pada Pintu. Ia tiada kuasa mempersilakan.

Lucunya, Jendela acapkali dipaksa munafik. Mau tak mau ia harus menuruti permintaan si Gorden agar semua terlihat gelap. Biar orang menaruh curiga : tiada tamu yang boleh dipersilakan!

Mungkin Pintu kadang sungkan sehingga menyuruh Gorden menzalimi Jendela. Alhasil, Jendela kerap digunjing dan dicurigai.

Lantas, dimana keadilan untuk Jendela? Menderitakah ia?

Apapun yang terjadi Jendela tetaplah Jendela, yang jadi muara cerita tiap insan rumah.

Sudah selayaknya kita berempati pada Jendela.