Satu
syawal atau lebaran, bagi para orang Indonesia, bisa dibilang pesta
pulang. Di hari itu orang-orang menyiapkan pulang. Bahkan sebelum
lebaran tiba, orang-orang sudah lalu-lalang pulang.
Pun, kampung berbenah menadah.
Puluhan bahkan ratusan kilometer bukan aral yang terjal. Begitu pula
tanah, laut, dan udara, yang sudah siap memperjalankan orang-orang.
Orang-orang sudah menyiapkan bekal. Mulai dari cadangan ban, jilbab warna-warni, hingga setandan pisang.
Orang-orang ingin segera pulang. Mereka tak betah sabar buat menghafal
kenangan. Kenangan waktu kecil di kampung. Saat berenang di kali sampai
hampir hanyut, berlari menangis ketika akan disunat pak mantri, sampai
kenangan bergandengan tangan di pematang sawah dengan cinta pertama
dulu.
Kehidupan memang tak sanggup memenangkan semua orang. Ada
saja orang-orang yang harus mengurungkan pulang. Mereka lazimnya lebih
memilih mengabdi. Sebut saja polisi, tentara, reporter, petugas
pelabuhan atau bandara, atau pun penjaga ketinggian debit air kali
ibukota negara. Mungkin mereka cuma bisa menitipkan kenangan pada marka
jalan.
***
Selain cinta, pulang termasuk bentuk kesetiaan insan.
Arus balik, 1 Agustus 2014